Minggu, 12 Oktober 2014

kelinci dan kura-kura

Kelinci Sombong dan Kura-kura

Print
Di sebuah hutan kecil di pinggiran desa, ada seekor Kelinci yang sombong. Dia suka mengejek hewan-hewan lain yang lebih lemah. Hewan-hewan lain seperti kura-kura, siput, semut, dan hewan-hewan kecil lain tidak ada yang suka pada kelinci sombong itu.
Suatu hari, si Kelinci berjalan dengan angkuhnya mencari lawan yang lemah untuk diejeknya. Kebetulan dia bertemu dengan kura-kura.
“Hei, kura-kura, si lambat, kamu jangan jalan aja dong.. lari begitu, biar cepat sampai,” kata Kelinci sambir mencibirkan bibirnya ke Kura-kura.
“Biarlah Kelinci, memang jalanku lambat. Yang penting aku sampai dengan selamat ke tempat tujuanku, daripada cepat-cepat nanti jatuh dan terluka,” jawab Kura-kura dengan tenang.
“Hei, kura-kura, bagaimana kalau kita adu lari. Kalau kau bisa menang aku akan beri hadiah apapun yang kau minta,” kata Kelinci dengan tertawa. Dalam hatinya dia berkata, “Mana mungkin dia akan bisa mengalahkanku.”
“Wah, kelinci, mana mungkin aku bertanding adu cepat denganmu, Kamu bisa lari dan loncat dengan cepat, sedangkan aku berjalan selangkah demi selangkah sambil membawa rumahku yang berat ini,” kata kura-kura.
“Nggak bisa, kamu nggak boleh menolak tantanganku ini. Pokoknya besok pagi aku tunggu kau di bawah pohon beringin. Aku akan menghubungi Pak Serigala untuk jadi wasitnya,” Kelinci memaksa.
Kura-kura hanya bisa diam melongo. Dalam hatinya berkata, “Mana mungkin aku bisa mengalahkan Kelinci?”
Keesokan harinya Si Kelinci sudah menunggu dengan sombongnya di bawah pohon beringin. Pak Serigala juga sudah datang untuk menjadi wasit. Setelah kura-kura datang, Pak Serigala berkata, “Peraturannya begini, kalian mulai dari garis di sebelah sana yang di bawah pohon mangga itu. Kalian bisa lihat nggak?” “Bisa… bisa… ,” Kelinci dan kura-kura menjawab. “Nah siapa yang bisa datang duluan di bawah pohon beringin ini, itulah yang menang,” kata Pak Serigala lagi.
“Oke,… satu…. dua… tiga… mulai!” Pak Serigala memberi aba-aba. Kelinci segera meloncat mendahului kura-kura, yang mulai melangkah pelan, karena dia tidak bisa meninggalkan rumahnya. “Ayo kura-kura, lari dong…..!” teriak Kelinci dari kejauhan. “Baiklah aku tunggu di sini ya…,” katanya lagi sambil mengejek kura-kura. Kelinci duduk-duduk sambil bernyanyi. Angin waktu itu berhembus pelan dan sejuk, sehingga membuat Kelinci menjadi mengantuk, dan, tak lama kemudian Kelinci pun tertidur!
Dengan pelan tapi pasti kura-kura melangkah sekuat tenaga. dengan diam-diam dia melewati Kelinci yang tertidur pulas. Beberapa langkah lagi dia akan mencapai finish. Ketika itulah Kelinci bangun. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kura-kura sudah hampir mencapai finish. Sekuat tenaga dia berlari dan meloncat untuk mengejar kura-kura. Namun sudah terlambat, kaki kura-kura telah menyentuh garis finish dan Pak Serigala telah memutuskan bahwa pemenangnya adalah KURA-KURA. Si Kelinci Sombong terdiam seolah tak percaya bahwa dia bisa tertidur.
“Nah, siapa yang menang Kelinci?” tanya kura-kura kepada kelinci. “Wah, ternyata kau menang kura-kura,” jawab kelinci malu. “Sekarang aku hanya minta satu dari kamu, kamu jangan sombong lagi, jangan suka mengejek lagi, dan jangan nakal, ya?” kata kura-kura. “Iya lah kura-kura, mulai sekarang aku tidak akan sombong lagi, tidak akan mengejek lagi. Maafkan aku ya,” kata kelinci. “Iya, nggak apa-apa, sekarang kita berteman ya?” kata kura-kura. Sejak saat itu Kelinci tidak sombong lagi.
(SELESAI)

kelinci dan kura-kura

Kelinci Sombong dan Kura-kura

Print
Di sebuah hutan kecil di pinggiran desa, ada seekor Kelinci yang sombong. Dia suka mengejek hewan-hewan lain yang lebih lemah. Hewan-hewan lain seperti kura-kura, siput, semut, dan hewan-hewan kecil lain tidak ada yang suka pada kelinci sombong itu.
Suatu hari, si Kelinci berjalan dengan angkuhnya mencari lawan yang lemah untuk diejeknya. Kebetulan dia bertemu dengan kura-kura.
“Hei, kura-kura, si lambat, kamu jangan jalan aja dong.. lari begitu, biar cepat sampai,” kata Kelinci sambir mencibirkan bibirnya ke Kura-kura.
“Biarlah Kelinci, memang jalanku lambat. Yang penting aku sampai dengan selamat ke tempat tujuanku, daripada cepat-cepat nanti jatuh dan terluka,” jawab Kura-kura dengan tenang.
“Hei, kura-kura, bagaimana kalau kita adu lari. Kalau kau bisa menang aku akan beri hadiah apapun yang kau minta,” kata Kelinci dengan tertawa. Dalam hatinya dia berkata, “Mana mungkin dia akan bisa mengalahkanku.”
“Wah, kelinci, mana mungkin aku bertanding adu cepat denganmu, Kamu bisa lari dan loncat dengan cepat, sedangkan aku berjalan selangkah demi selangkah sambil membawa rumahku yang berat ini,” kata kura-kura.
“Nggak bisa, kamu nggak boleh menolak tantanganku ini. Pokoknya besok pagi aku tunggu kau di bawah pohon beringin. Aku akan menghubungi Pak Serigala untuk jadi wasitnya,” Kelinci memaksa.
Kura-kura hanya bisa diam melongo. Dalam hatinya berkata, “Mana mungkin aku bisa mengalahkan Kelinci?”
Keesokan harinya Si Kelinci sudah menunggu dengan sombongnya di bawah pohon beringin. Pak Serigala juga sudah datang untuk menjadi wasit. Setelah kura-kura datang, Pak Serigala berkata, “Peraturannya begini, kalian mulai dari garis di sebelah sana yang di bawah pohon mangga itu. Kalian bisa lihat nggak?” “Bisa… bisa… ,” Kelinci dan kura-kura menjawab. “Nah siapa yang bisa datang duluan di bawah pohon beringin ini, itulah yang menang,” kata Pak Serigala lagi.
“Oke,… satu…. dua… tiga… mulai!” Pak Serigala memberi aba-aba. Kelinci segera meloncat mendahului kura-kura, yang mulai melangkah pelan, karena dia tidak bisa meninggalkan rumahnya. “Ayo kura-kura, lari dong…..!” teriak Kelinci dari kejauhan. “Baiklah aku tunggu di sini ya…,” katanya lagi sambil mengejek kura-kura. Kelinci duduk-duduk sambil bernyanyi. Angin waktu itu berhembus pelan dan sejuk, sehingga membuat Kelinci menjadi mengantuk, dan, tak lama kemudian Kelinci pun tertidur!
Dengan pelan tapi pasti kura-kura melangkah sekuat tenaga. dengan diam-diam dia melewati Kelinci yang tertidur pulas. Beberapa langkah lagi dia akan mencapai finish. Ketika itulah Kelinci bangun. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kura-kura sudah hampir mencapai finish. Sekuat tenaga dia berlari dan meloncat untuk mengejar kura-kura. Namun sudah terlambat, kaki kura-kura telah menyentuh garis finish dan Pak Serigala telah memutuskan bahwa pemenangnya adalah KURA-KURA. Si Kelinci Sombong terdiam seolah tak percaya bahwa dia bisa tertidur.
“Nah, siapa yang menang Kelinci?” tanya kura-kura kepada kelinci. “Wah, ternyata kau menang kura-kura,” jawab kelinci malu. “Sekarang aku hanya minta satu dari kamu, kamu jangan sombong lagi, jangan suka mengejek lagi, dan jangan nakal, ya?” kata kura-kura. “Iya lah kura-kura, mulai sekarang aku tidak akan sombong lagi, tidak akan mengejek lagi. Maafkan aku ya,” kata kelinci. “Iya, nggak apa-apa, sekarang kita berteman ya?” kata kura-kura. Sejak saat itu Kelinci tidak sombong lagi.
(SELESAI)

Sabtu, 04 Oktober 2014

dewa telah mati

Dewa Telah Mati

Tak ada dewa di rawa-rawa ini
Hanya gagak yang mengakak malam hari
Dan siang terbang mengitari bangkai
Pertapa yang terbunuh dekat kuil

Dewa telah mati di tepi-tepi ini
Hanya ular yang mendesir dekat sumber
Lalu minum dari mulut
Pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri

Bumi ini perempuan jalang
Yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
Ke rawa-rawa mesum ini

Dan membunuhnya pagi hari

GEMURUH RINDU

qwertyu.jpg
qwertyu.jpgGEMURUH RINDU
Oleh: Nurlia 

Ambisi yang bergulat gebu
Injakan kaki yang kian membekas
Langkahku kian menyepi
Rasaku kini menjadi tak berdaya
Uraian kata dari bibir ini kini membisu
Naluriku kini berselimut kelam

Naunganku adalah pelukan hangatmu
Untaian kasihmu tak berujung
Rindu akan belaianmu menyelimuti pikiranku
Lamunanku kini menggelora
Ingatanku kini menggulat menggebu
Anganku takkan menjadi wujud

MAHKOTA

MAHKOTA
Oleh: Nurlia@LhiieMIL
“Kim tan” kata seseorang sambil duduk di depan kursi Kim tan.
 “Di hari kim tan pergi ke luar negeri, perpisahan yang diucapkan kakaknya begitu sederhana, singkat dan jujur,” begitulah yang ada diangan-angan Kim tan. Teringat masa lalu saat dia akan pergi ke Korea kakaknya berkata “Belajar?  Tak perlu susah payah. Bahasa inggris? Jika menyebalkan, jangan lakukan. Hidup saja seperti yang kau inginkan, tak perlu khawatir bahkan berpikir. Biasanya itulah yang dilakukan oleh pewaris kaya. Daripada memiliki impian. Dan jika memungkinkan, jangan kembali lagi”
Saat itulah aku sadar bahawa aku datang ke Korea bukan untuk belajar, melainkan dibuang. Dan juga kakak akan mengambil semua hal yang akan hilang dariku suatu saat nanti.” Itulah pikiran kim tan sekarang ini sambil terus menikmati tehnya.
“mau tambah?” kata seorang pelayan seksi yang ada di caffe itu. Kim tan segera menyodorkan gelasnya.
“ kamu tidak menyalahkan mereka? kakakmu yang membencimu, ibumu yang melahirkanmu, dan ayahmu yang tidak pernah berpihak kepadamu.”  Kata teman kim tan yang tepat berada di depannya.
“hm” begitulah kata kim tan sambil terus memandang ke luar jendela memandangi orang-orang yang sedang menikmati pantai.
Untuk menyalahkan seseorang, aku terlalu malas” kata kim tan dalam hatinya
Tiba-tiba kim tan melihat seorang gadis dengan kopernya menangis karena melihat pelayan seksi yang menyodorkannya teh menggoda segerombolan lelaki. Ternyata pelayan seksi itu melihat gadis malang itu.
“Kenapa disini” ucap pelayan itu sambil memeriksa koper adiknya
“kakak tidak kuliah?” kata eu san sambil memegang tangan kakaknya.
“kuliah? Aku Cuma butuh uang” kata kakak Eu san sambil mengambil uang yang ada di koper  Eu san.
“kak, Cuma itu yang aku punya” kata Eu san dengan tangis yang begitu tragis memohon.
Tapi kakaknya tidak peduli. Ia bahkan dia berlari menjauh dari eu san. Eu san ingin mengejar tapi kopernya telah berantakan di tengah jalan karena telah digeledah oleh kakaknya.
Tanpa sengaja air mata Kim tan jatuh. Ia pun segera menolong Eu san.
“mau ke mana ?” Tanya Kim tan prihatin.
Eu san segera memberikan alamat kakaknya yang telah lama dia simpan. Kim tan pun mengantarnya ke alamat itu. Walaupun sebenarnya kim tan masih khawatir tentang eu san. Setelah sampai ke alamat kakaknya, Eu san turun dari mobil Kim tan dan mengambil barang-barangnya. Eu san menuju rumah yang tampaknya tak berpenghuni itu. Mengetuk pintu dan memanggil kakaknya tapi tak ada suara sedikitpun di rumah itu. Eu san memandang kearah jalan ternyata di sana masih ada Kim tan yang melihat tingkahnya itu.
“mungkin dia sedang pergi sebentar. Dia pasti akan datang sebentar lagi” kata Eu san sedikit gugup dengan ucapannya.
“hmm” kata Kim tan dan segera meninggalkan eu san.
Eu san sudah lama menunggu tapi kakaknya tak datang. Tiba-tiba segerombol preman menghampiri walau hanya menyapa.
“haaiii gadis manis.” Kata seorang preman bertato itu.
Tapi ternyata hari itu keberuntungan Eu san karena preman langsung meninggalkannya. Eu san merasa bosan harus menunggu, kini iapun berjalan ke luar dari rumah itu. Tiba-tiba mobil merah yang taka asing bagi Eu san melejit ke sampingnya.
“mau ikut ke rumahku?” tanya Kim tan kepada Eu san.
“hah? Tidak, tidak usah” tolak Eu san
“kamu yakin disini aman untuk seorang gadis seperti kamu?” Tanya Kim tan cuek.
“kamu yakin di rumahmu lebih aman daripada disini?” Tanya Eu san sebelum menjawab pertanyaan Kim tan.
Kim tan pun menarik tangan Eu san naik ke mobil dan membawanya ke rumahnya. Setelah sampai, eu san benar-beanar kaget Karena rumah Kim tan begitu mewah, besar, dan luas untuk ditempati oleh seorang Kim tan saja.
“kamarmu ada disana” kata Kim tan sambil menunjuk ke arah salah satu kamar.
Eu san segera menuju ke kamarnya. Tak lupa dia menggantungkan sebuah jaring  tepat di jendela. Sebuah jaring yang ia yakini dapat menangkap semua mimpi buruk dan hanya menyisakan mimpi indah saja.
Eu san tingga di rumah Eu san dalam beberapa hari dan sudah menorehkan begitu banyak kenangan di antara mereka. Di mulai dari ke pantai bersama, ke California bersama, membeli baju dengan motif yang sama “I love california”, nonton film kesukaan eu san, dikejar preman, dan melihat Hollywood bersama dari kejauhan.
“Hollywood itu indah. Terlihat dekat tapi sebenarnya sangat jauh untuk ke sana” kata Eu san tiba- tiba saat melihat Hollywood dari kejauhan.
“hmm, begitulah kebahagiaan tapi membutuhkan kesabaran untuk mecapai keindahan itu” kata Kim tan sambil memegang tangan eu san. Tapi Eu san segera melepas pegangan itu.
Kini tiba saatnya Eu san harus kembali ke Indonesia. Walau berat melangkahkan kakinya ke bandara tapi dia tak bisa terus-terusan berada di korea sementara ibunya sangat menderita dengan pekerjaannya yang selalu dimarahi oleh majikannya. Sebagai ucapan terima kasih Eu san terhadap Kim tan dia memberikan jaring-jaringnya. Sebuah jaring yang akan menangkap semua mimpi buruk dan hanya akan menyisakan mimpi indah saja.
Setelah sampai di Indonesia, ternyata ibunya pindah ke rumah majikannya karena dia tidak bisa melunasi hutangnya. Eu san pun juga pindah ke rumah majikan ibunya.
“ibu”, manja eu san kepada ibunya dan air matanya kini menetes.
“hmm? Ayo ke kamar nak” begitulah kata ibunya yang ditulis di dalam buku kecilnya yang selalu setia menemaninya sudah seperti sebuah mulutnya. Ibunya lalu memeluk Eu san.
Eu san pun segera memasuki kamar pembantu yang ada di ruang paling belakang rumah mewah itu. Kemudian Eu san segera membantu ibunya yang sedang bekerja.
“ahjumma” teriak majikan ibu Eu san
“maaf tuan, ibu saya ada di belakang mencuci pakaian,”kata Eu san sambil menunduk.
“oh? Ambil anggur di gudang samping,” kata majikan ibu Eu san cuek.
Eu san segera ke gudang belakang untuk mengambil anggur di dalam perjalanannya ke gudang air matanya tiba-tiba menetes karena mengingat kim tan. Kim tan yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Kim tan yang telah menjadi mimpi indahnya selama ini tapi, kini eu san harus menerima kenyataan yang ada yakni hanya harus menerima kenyataan yang terjadi. Eu san sadar bahwa dia hanyalah seorang anak pembantu yang ingin memiliki mimpi indah walau itu tidak akan dia dapatkan.
Kim tan akhirnya mengalah dan ingin kembali ke Indonesia karena dia sangat merindukan keluarganya. Ibunya yang melahirkannya, ayahnya yang tak pernah berpihak kepadanya, dan kakaknya yang tidak pernah berhenti membencinya. Sesempainya di rumah ternyata ayahnya tidak begitu benci dengannya lagi karena ayahnya betul-betul merindukan Kim tan.
“kenapa kamu  kembali?” kata kakak Kim tan sedikit marah.
“aku kembali bukan untuk mengambil saham yang kamu punya, tapi aku kangen sama kakak, ibu, dan ayah,” tegas Kim tan menahan tangisnya.
“Kapan kamu kembali ke Korea? Ini bukan tempatmu,” bentak kakak Kim tan yang cuek.
“kenapa kakak begitu membenciku? Apa aku salah kalau aku merindukan sebuah keluarga? Apakah anak haram tidak pantas merindukan keluarganya?” kata Kim tan yang kini meneteskan air matanya.
Perkataan Kim tan tidak dipedulikan oleh kakaknya. Bahkan kakaknya malah pergi meninggalkan Kim tan dan membanting pintu. Kim tan sendiri bingung kenapa dia harus dibenci oleh kakaknya yang dia sayangi itu. Tiba-tiba Kim tan melihat seseorang dengan rambut panjang melaluinya. Dia bahkan tidak tau siapa orang yang tinggal di rumahnya sendiri. Ia pun segera ke kamar ibunya untuk menanyakan seorang gadis misterius itu.
“ibu, di rumah kita ada hantunya yah?” Tanya Kim tan seperti orang yang sedang menakuti ibunya sendiri.
“hah ? hantu ? ada hantu yah? Di mana ?” kata ibunya juga kaget denga apa yang dikatakan oleh Kim tan anak yang dia sayangi itu.
“Di dapur, dia seorang gadis yang berambut panjang. Jangan-jangan ibu pelihara kuntil yah?” Tanya Kim tan sambil tertawa.
“oh itu, itu anaknya ahjumma. Dia baru pindah ke sini karena rumahnya disita karena ibunya memiliki banyak hutang yang belum dia lunasi,” kata ibunya menjelaskan kepada anaknya itu.
“namanya siapa?” Tanya Kim tan sambil mengerutka dahinya.
“kalau tidak salah namanya, euu…..ss..ssann yaa eu san,” kata ibunya cuek
hah jangan-jangan dia adalah eu sanku eu san yang selama ini kucari” kata Kim tan dalam hatinya.
“ok, aku ke kamar bu,” kata Kim tan sambil memeluk ibunya sebelum ke kamarnya.
Kim tan benar-benar penasaran dengan eu san yang dia sayangi dengan anak pembantu yang ada di rumahnya. Tanpa piker panjang, Kim tan lalu mengambil ponselnya dan menghubungi eu san melalui jejaring facebook.
Kim tan : lagi dimana hidung pesek?
Eu san : kenapa?
Kim tan : kangen pesek
Eu san : :p
Kim tan : kerja apa?
Eu san : minum
Tanpa pikir panjang, Kim tan menuju ruang makan dengan sangat hati-hati dia ingin mengintip ke dalam ruangan itu. Dengan perasaan yang sangat penasaran dan sangat ingin tau kebenaran dia perlahan-lahan membuka pintu ruang makan itu. Jantung Kim tan seakan berhenti berdetak sejenak, nadinyapun seakan tak bisa berdenyut maksimal,  begitu melemah. Ternyata inilah akhirnya sejuta Tanya yang ada di otaknya akan terjawab sudah. Jika memang itu adalah Eu san yang dia suka maka dia akan sangat senang, sebaliknya jika memang itu bukan Eu san maka dia akan sedikit kecewa karena selama ini dia berusaha mencari keberadaan. Dengan sedikit rasa kepercayaan, ternyata Eu san itu betul  Eu san yang dia sayangi dan dia cari ke mana-mana. Melihat itu adalah Eu san, Kim tan hanya bisa tersenyum melihatnya.
Eu san kini tinggal di rumah Kim tan meski Eu san tidak tau bahwa Kim tan adalah anak kedua keluarga perusahaan Tejuk. Karena kebaikan ayah Kim tan, Eu san sekolah di sekolah yang sangat diimpikan oleh banyak orang dan sekolah itu menjadi sekolah favorite meski hanya golongan orang kaya yang sekolah di sekolah itu. Akan tetapi yang membuat Eu san senang karena sahabat karibnya juga bersekolah di sekolah itu.
“Eu san?” kata Young kepada Eu san sambil tersenyum.
“hm, aku sangat senang bisa bertemu kamu unyu” kata Eu san sambil meledek Young.
Tiba-tiba seorang gadis cantik dengan tatapan ke depan layaknya model berjalan di depan mereka. Wanita itu berjalan sambil menatap eu san dan young dengan sinis.
“sst, siapa?” Tanya Eu san kepada Young.
“oh, dia tunangannya Kim tan” jawab Young santai.
“Kim tan?” gugup Eu san
“yah Kim tan, yang memiliki sekolah ini dan putra kedua perusahaan Tejuk” jawab Young santai.
Eu san sangat penasaran, Kim tan siapa yang Young maksud. Apakah Kim tan yang menjadi mimpi indahnya atau Kim tan yang lain. Eu san pun teringat tentang kedatangan putra kedua majikan ibunya baru-baru ini. Eu san bahkan belum pernah melihat secara langsung seperti apa wajah putra kedua majikan ibunya. Tanpa pikir panjang dia segera pulang ke rumahnya.
Saat perjalanan ke gudang anggur,tiba-tiba ada pesan dari Kim tan:
lihat ke atas
 Ternyata atas yang Kim tan maksud adalah kamarnya,. Di kamar itu ternyata masih tergantung jaring yang Eu san berikan kepadanya. Sebuah jaring yang akan menangkap semua mimpi buruk dan hanya menyisikan mimpi indah saja. Pikiran Eu san pun melayang.ntiba-tiba dia dikagetkan oleh seseorang yang memeluknya dari belakang. Eu san berbalik hendak melihat orang itu. Ternyata dia adalah mimpi indahnya. Mimpi yang selalu menjadikannya bersemangat dalam bekerja dan belajar. Eu san bahkan tak mampu mengedipkan matanya.
“Eu san? Bagaimana kabar kamu?” kata Kim tan memeluk Eu san.
Eu san tidak bisa berkata-kata. Eu san justru memilih untuk menjauh dari Kim tan.
“Eu san, berhenti” tegas Kim tan.
Eu san pun berhenti sejenak.
“Eu san, munngkinkah…aku..Kim tan ini merindukanmu?” Tanya Kim tan kepada Eu san yang menbuat jantung Eu san berdegup kencang.
Bahkan Eu san masih tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Eu san hanya mampu menjawab pertanyaan itu dengan sebuah pelukan yang begitu berat. Kim tan hanya bisa tersenyum dengan tingkah Eu san yang lucu itu.
“kamu putra kedua?” cetus Eu san tiba-tiba
“ya, kamu tidak marahkan?” canda Kim tan
“tidak mancung, tapi kita harus merahasiakan kedekatan kita ini. Ya?” rintih Eu san.
“aku akan memberitauhukan mereka bahwa kamu adalah orang yang kusayangi. Maukan?”kata Kim tan penuh senyum.
“kamu siapanya aku coba?” kata Eu san sedikit meragukan hubungan yang sebenarnya ang dia jalani dengan Kim tan.
“kamu pacarku, kalau menganggap bukan maka mala mini kita resmi berpacaran. Iya?” kata Kim tan mengerutkan dahinya.
“tunangan kamu?”Tanya Eu san tiba-tiba serius
Kim tan lalu menjelaskan tentang pertunangannya dengan Rachel. Pertunangan yang diadakan hanya karena ingin memiliki saham yang sangat banyak dan mengalahkan saham perusahaan lainnya. Tapi Kim tan tak menginginkan pertunangan yang tidak didasari oleh cinta. Eu san mengerti dengan penjelasan Kim tan. Setelah keduanya berbincng-bincang, mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing.
Lambat laun, hubungan special antara Eu san dan Kim tan diketahui oleh ayahnya. Ayahnyapun sangat murka dan sangat kecewa dengan Eu san karena dia telah menfasilitasi Eu san selama sekolah. Namun,ayah Kim tan merasa dikhianati oleh anak pembantunya itu. Akhirnnya, dia memanggil Eu san keruangannya.
“Eu san, kenapa kamu mengkhianatiku?” tegas ayah Kim tan.
“aa..aku tidak menghianati tuanku. Maaf tuan” kata Eu san dengan nada suara yang sangat gugup.
“dasar  tidak tau terima kasih!” tukas ayah Kim tan begitu kejam.
“maaf tuan, rasa ituu..”
“tidak usah menjelaskan hal yang tidak penting. Kenapa kamu membiarka rasa itu tumbuh. Kenapa Eu san?” tegas ayah Kim tan begitu keras.
“maaf tuan, saya akan berusaha untuk mengubah sikap saya terhadap tuan muda” rintih Eu san sambil menetaskan air matanya.
“yaa sudah keluar, sekarang kuberi pilihan, pilih sekolah di luar negeri atau kamu dan ibumu akan kupecat dan kalian hidup dijalanan” kata ayah Kim tan
“pilihan itu sangatt…”
“keluar sekarang Eu san,” tegas ayah Kim tan menbuat Eu san segera ke luar dari ruangan yang membuatnya sangat sakit hati.
Ketika di sekolah, Eu san sangat menjaga sikap dengan Kim tan. Hal  ini jelas membuat Kim tan penasaran tantang yang tejadi dengan Eu san. Kim tan pun menghampirinya di tengah-tengah keramaian di sekolahnya.
“Eu san, kamu baikkan hari ini?” Tanya Kim tan sambil menarik tangan Eu san.
“tidak usah bicara denganku lagi Tam. Aku ini hanya anak pembantu yang sangat jauh untuk menjadi pendamping seorang raja yang begitu istimewa,” kata Eu san yang terus menunduk tanpa melihat mata Kim tan. Hal itulah yang membuat Kim tan tau yang sebenarnya terjadi.
“ayah yang membuat kamu seperti inikan?” Tanya Kim tan sambil menarik tangan Eu san.
“hm, jadi sebaiknya kamu fokus dengan saham yang akan kamu pimpin,” kata Eu san menahan tangisnya.
“Eu san, hanya seperti inikah cinta yang kamu miliki untukku? Sekarang ini aku sedang berusaha mencari cara agar semua yang kuinginkan tercapai. Aku hanya ingin kamu menunggu untuk waktu itu,” kata Kim tan hangat.
“kita itu bagai Hollywood. Saat kamu menggenggam tanganku kamu seakan dekat tapi untuk bersamamu selamanya kamu begitu jauh untuk kumiliki,” tangis Eu san.
“Eu san, aku hanya mau kamu akan selalu mendukung apapun yang aku lakukan. Menungguku di sana dan selalu memberiku senyuman yang manis.” Kata Kim tan meyakinkan Eu san.
“tapi aku ini hanya anak…” Eu san belum sempat melanjutkan kata-katanya , Kim tan meletakkan telunjuknya ke mulut Eu san.
“untuk semua siswa, dengarkan saya,” teriak Kim tan membuat semua siswa berkumpul di dekat mereka.
“kamu gila Tan?” kata Rachel maju ke arah Kim tan.
“aku tidak gila, aku hanya akan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi. Aku Kim tan seorang putra kedua perusahaan Tejuk adalah anak haram mencintai Eu san yang anak pembantu.” Kata Kim tan begitu percaya diri menjelaskan hal yang sesungguhnya.
Pengakuan Kim tan membuat seluruh isi sekolah seakan terkena tsunami dan bagai terjadi hujan meteor. Berita yang sangat heboh itu akhirnya sampai ke telinga ayahnya. Hal ini membuat ayahnya memutuskan untuk membirakan saham terbesarnya kepada Kim tan agar perusahaannya melejit sangat cepat dan dikenal banyak orang. Tentu saja hal itu membuat Won kakak Kim tan begitu murka karena keputusan ayahnya. Dia pun memutuskan untuk mendatangi Kim tan.
“kamu puas anak haram?” kata Won kepada adiknya
“kenapa kakak membenciku? Kenpa kakak tidak pernah mengerti dengan aku?” Tanya Kim tan dalam tangisnya.
“kamu tidak pernah dewasa Tam,” cetus kakaknya kasar..
“baik, kalau itu yang kakak mau saya akan menjadi seorang yang tegas dan dewasa. Awalnya saya ingin menolak pemberian saham dari ayah. Tapi mendengar kata kakak saya berubah pikiran sekarang. Saya akan berjuang untuk mempertahankannya. Jadi bersiaplah untuk menghadiri rapat kakak karena ayah akan memecat kakak sebagai presiden” tegas Kim tan yang tiba-tiba serius membuat kakaknya menangis dengan kata-katanya yang begitu kasar selama ini kepada adiknya.
Ada saat rapat, Won sangat takut tergantikan posisinya sebagai seorang presiden. Won tidak ingin kehilangan hal untuk yang kedua kalinya. Saham telah dimiliki oleh adiknya dan dia tidak boleh merebut posisinya juga. Akhirnya keputusan akhir rapat tidak meruba sesuatu. Won tetap menjadi presiden perusahaan.
Setelah sampai di rumah, Kim tan yang menggandeng tangan ayahnya bertemu Eu san. Kim tan pun menganggap bahwa itulah hal yang sangat ia tunggu. Kim tan menarik tangan Eu san dengan penuh percaya diri.
“Eu san, aku mencintaimu” kata Kim tan membuat Eu san terkejut.
“ayah, aku akan menjalankan saham dengan baik jika ayah mengizinkanku untuk tetap bersama Eu san” kata Kim tan sedikit tegas kepada ayahnya karena tidak ingin dikatakan masih anak-anak.
“hmm, baiklah. Itulah hadiah untukmu karena selama ini aku tidak pernah memedulikan apa yang kamu mau”kata ayahnya tanpa ekspresi.
“ayah serius?”Tanya Kim tan.
“Tuan muda tidak akan mengeluarkan aku dari rumah?” Tanya Eu san ingin kepastian.
“ya, saya akan membiarkan rasa cinta kalian tubuh,” kata Ayah Kim tan sedikit tersenyum.

Kim tan dan Eu san pun mengantar ayah Kim tan ke kamarnya. Inilah akhir dari sebuah ketikan kata per kata. Berawal dari kata “Kim tan” dan berakhir dengan kata “bahagia bersama Eu san”.

GELOMBANG YANG TAK MELENGKUNG

GELOMBANG YANG TAK MELENGKUNG
Oleh: Nurlia
Bekas kaki itu kini terhapus
Bayanganmu kini tak Nampak
Sela-sela jari-jariku kini kosong
Di sampingkupun kini jadi ruang hampa
Gemuruh gelombang menyadarkanku
Menyadarkanku dari ingatan lumpuhku
Otakku yang tak besar ini
Masih membesitkan candamu
Bola mata yang tak memiliki frekuensi maksimum ini
Masih dapat mengingat pandanganmu
Hidungku yzng tak dapat mengecap ini
Masih dapt merasakan hembusan CO2 darimu
Telingaku yang tak dapat   meraba ini
Masih dapat meraba untaian kata ragkap dua kata halusmu
Love you…
Mulutku yang tak dapat mendengar ini
Masih dapat menjawab deretan tanyamu
Jantungkupun yang tak memiliki tegangan ini
Masih berarus kuat menggemuruh tak menentu
Ku ingin dan kumau
Kutub utara dan selatan sejajar


Ditarik oleh magnet-magnet khatulistiwa
Namun, apalah daya
Raga kita terpisah langkah nun jauh di sana
Terhalang oleh kuatnya arus khatulistiwa
Aku dan kamu di bentangan bima sakti utara dan selatan
Subkulit bumi begitu tebal
Menjadikan tangan-tangan kecil ini
Tak memiliki ATP untuk menggenggam erat jemarimu
            Kuterlarut dalam medan magnetmu
Bola mata ini meletuskan bulir-bulir halusnya
Hati kecil ini yakin akan keesaan_Mu
Engkaulah perestu hubungan kami
Cinta yang berwujud suci
Hidup bersanding sang pangeran hati
Menjalin cinta resonansi
Melayang, terapung, terbang bersama
Hingga ke samudera di atas awan
Walau harus terjatuh
Ternyata kusadar ini hanyalah ilusi semata





@LhiieMIL